Kesetiaan dalam Kebenaran
📖 Bacaan: Matius 14:1–12
“Yohanes telah aku penggal kepalanya; siapakah gerangan Dia ini yang kabarnya mengadakan hal-hal besar itu?” — Herodes (Mat 14:2)
🔹 1. Kebenaran yang Mengganggu
Yohanes Pembaptis tidak takut menyuarakan kebenaran, bahkan kepada Raja Herodes:
“Tidak halal engkau mengambil Herodias, isteri saudaramu!” (lih. Mrk 6:18)
Karena keberanian itu, ia dipenjara dan akhirnya dipenggal.
Yohanes memilih kesetiaan kepada Allah daripada kompromi demi keselamatan pribadi.
➡️ Dalam dunia yang makin permisif, adakah aku masih berani berdiri untuk kebenaran?
🔹 2. Hati Nurani yang Bersalah
Herodes tahu bahwa Yohanes itu benar dan suci. Tetapi demi menyenangkan orang lain, ia mengorbankan kebenaran.
Setelah Yohanes mati pun, Herodes gelisah dan takut. Ia mengira Yesus adalah Yohanes yang bangkit.
Hati nurani yang bersalah tidak akan pernah tenang.
➡️ Apakah aku sedang menekan suara hati demi gengsi, kekuasaan, atau kenyamanan?
🔹 3. Kematian yang Menjadi Kesaksian
Meskipun Yohanes tidak melihat Mesias secara penuh dalam pelayanan-Nya, hidup dan matinya menjadi kesaksian yang kokoh.
Ia adalah “suara yang berseru-seru di padang gurun”, dan tetap bersuara bahkan dalam kematiannya.
➡️ Adakah aku berani hidup dan bersaksi seperti Yohanes, bahkan jika itu tidak populer?
🔹 4. Dunia Membungkam Suara Kebenaran
Herodias dan anak perempuannya melambangkan dunia yang menggunakan pengaruh, kesenangan, dan manipulasi untuk membungkam suara kenabian.
Kita pun hidup di dunia yang ingin menenangkan suara hati dengan kenikmatan dan pencitraan.
➡️ Apakah aku lebih sering membungkam suara Tuhan dalam diriku demi kenyamanan pribadi?
🔹 5. Refleksi Pribadi
- Apakah aku menyuarakan kebenaran atau diam demi aman?
- Apakah aku memelihara suara hati yang bersih dan jujur?
- Siapkah aku menderita demi Injil dan kehendak Tuhan?
🙏 Doa Penutup
Tuhan Yesus,
Berilah aku keberanian seperti Yohanes Pembaptis —
untuk berdiri teguh di atas kebenaran,
sekalipun dunia menolaknya.
Bersihkan hatiku dari kompromi dan kepura-puraan,
dan jadikan hidupku kesaksian nyata bagi-Mu.
Amin.